Senin, 30 November 2020

Apa perbedaan antara agama dan spiritualitas?

Agama didefinisikan sebagai “kepercayaan kepada Allah atau ilah-ilah untuk disembah, biasanya diekspresikan dalam perilaku dan ritus/upacara” atau “sistem kepercayaan, penyembahan tertentu yang mencakup pedoman perilaku tertentu.”

Spiritualitas dapat didefinisikan sebagai “kualitas atau fakta kerohanian, sesuatu yang tidak bersifat jasmani" atau "ciri rohani yang ditunjukkan melalui pemikiran, cara hidup, dll; kecenderungan atau nada rohani."

Kesalahpahaman yang paling banyak terjadi terkait agama adalah kekristenan dipandang sekedar salah satu agama seperti Islam, Yudaisme, Hinduisme, dll. Sayangnya, banyak yang mengklaim dirinya sebagai pengikut kekristenan hanya mempraktikkan kekristenan sebagai suatu agama.

Bagi banyak orang, kekristenan tidak lebih dari serangkaian peraturan dan ritual yang harus diikuti oleh seseorang supaya kelak masuk surga setelah meninggal. Kekristenan sejati tidaklah demikian.

Kekristenan sejati bukanlah agama, melainkan ada tidaknya hubungan yang benar dengan Allah; ketika seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat-Mesias oleh anugerah melalui iman.

Ya, kekristenan memiliki “upacara” yang harus dijalani (seperti baptisan dan perjamuan kudus). Ya, kekristenan memiliki "peraturan” yang harus ditaati (e.g. jangan membunuh, kasihilah satu dengan yang lain, dll). Namun demikian, upacara dan peraturan ini bukanlah inti dari kekristenan. Upacara dan peraturan kekristenan merupakan hasil keselamatan.

Ketika seseorang menerima keselamatan melalui Yesus Kristus, ia dibaptis sebagai proklamasi iman itu. Ia merayakan perjamuan kudus untuk mengingat pengorbanan Kristus. Ia menaati daftar perintah dan larangan semata-mata karena mengasihi Allah; wujud syukur atas apa yang telah Dia perbuat.

Kesalahpahaman paling umum mengenai spiritualitas adalah bahwa ada banyak bentuk spiritualitas, dan semuanya sama benarnya. Bermeditasi dalam posisi tubuh yang tidak wajar, bersekutu dengan alam, berbicara dengan dunia roh, dll., mungkin terlihat "rohani" namun sebetulnya merupakan spiritualitas yang keliru.

Spiritualitas sejati itu ketika seseorang memiliki Roh Kudus dari Allah, sebagai hasil dari menerima keselamatan melalui Yesus Kristus. Spiritualitas sejati adalah buah yang dihasilkan Roh Kudus dalam hidup seseorang: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23).

Spiritualitas itu mengenai menjadi lebih serupa dengan Allah yang merupakan Roh (Yohanes 4:24) dan karakter kita menjadi serupa dengan gambar-Nya (Roma 12:1-2).

Persamaan antara agama dan spiritualitas itu terkait metode keduanya yang salah dalam memiliki hubungan dengan Allah. Agama cenderung menggantikan hubungan yang sejati dengan tata upacara yang bukan datang dari dalam hati. Spiritualitas cenderung menggantikan hubungan yang sejati dengan ritual yang bisa membuat dirinya berhubungan dengan dunia roh.

Keduanya bisa, dan sering merupakan jalan yang salah kepada Allah. Pada saat bersamaan, agama bisa menyajikan fakta bahwa Alah itu ada dan kita harus bertanggung jawab kepada-Nya.

Satu-satunya nilai agama yang sejati adalah kemampuannya menunjukkan bahwa kita telah berdosa dan membutuhkan seorang Juruselamat. Spiritualitas berharga saat menunjukkan bahwa dunia fisik bukanlah segalanya. Manusia bukan hanya bersifat materi, namun juga memiliki roh-jiwa.

Ada dunia roh di sekeliling kita yang harus kita sadari baik-baik. Nilai spiritualitas yang sejati menyajikan fakta bahwa ada sesuatu dan seseorang di balik dunia fisik ini, yang denganNya kita perlu berhubungan.

Yesus Kristus adalah penggenapan dari agama dan spiritualitas. Yesus adalah Dia yang kepada-Nya kita bertanggung jawab dan kepada siapa agama sejati seharusnya menyembah.

Yesus adalah satu-satunya dengan siapa kita perlu berhubungan dan kepada siapa spiritualitas sejati merujuk.

Sabtu, 07 November 2020

Renungan Harian, Sabtu: 07 November 2020

Hari Biasa
Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2,5-6,8a,9; Luk. 16:9-15.

Luk 16:9
Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."

Tuhan Yesus kiranya juga tidak meminta aku untuk meninggalkan uang dan materi begitu saja. Ia mengarahkanku untuk waspada terhadap keterikatan. Ketika aku sulit tersenyum ketika tidak punya uang, atau ketika hidupku disibukkan oleh belanja dan belanja tanpa kendali, mungkin aku mulai terikat oleh mammon.

Tuhan Yesus, bantulah aku melepaskan diri dari ikatan berhala-berhala duniawi dan mampukanlah aku setia kepada-Mu dalam peziarahan hidup ini. Amin.